Akankah Berhenti Menulis??

Entah, terkadang tangan ini lelah menulis. Lelah mengikat arti dan menuangkannya ke dalam bentuk tulisan. Terkadang tangan ini jenuh menulis dan membiarkan yang ada di hadapan dan dalam hati berlalu begitu saja. Lalu terbesit untuk menyimpan bendahara kata dalam hati tanpa mengeluarkannya ke dalam bentuk tulisan. Membiarkannya terhapus waktu, tergerus terbawa angin. Atau membiarkannya tersimpan tanpa ada yang mengetahuinya.

Ada kalanya gambar yang tertangkap oleh mata ini, kembali mengabur tak terlihat jelas lalu menghilang. Ada kalanya makna yang tertangkap oleh hati ini terlepas tak kembali lalu terlupa. Ah, adakah penulis yang tak pernah menulis kembali? Adakah penulis yang tak pernah bercerita, tentang isi hatinya, tentang makna yang terjaring melalui mata dan hatinya?

Menulis… terkadang bagi yang menulis merupakan rangkaian isi hati yang sayang untuk dilewatkan. Terkadang menulis layaknya bercerita tentang indahnya malam kepada sang malam itu sendiri. Terkadang menulis layaknya mengikat arti saat ini untuk kelak kembali dibuka, bahwa dulu ini sempat tertulis. Lalu tersenyum… Layaknya reuni dengan hati yang terlupa.

Mungkin bagi penulis sejati, ketika ruang dan waktu menahannya untuk menulis, ia akan tetap menulis. Atau ketika kelelahan menyergap, saatnya reuni dengan hati menyapa untuk kembali semerbak. Seperti penjara bukanlah tempat untuk berhenti menulis. Ketiadaan pena, bukanlah alasan untuk tidak menulis. Atau ketika kebenaran dihalangi kecurangan. Atau ketika cahaya di hati ditutupi kegelapan tirani.

Ya, menulis layaknya bercerita tentang malam kepada sang malam, menulis layaknya mengutarakan isi hati yang tersimpan untuk membuka yang tertutup. Menulis layaknya untuk diri sendiri tapi menyentuh hati yang lain. Dan ketika lelah menyergap, kelak engkau akan kembali dibangkitkannya.

Percakapan Ayah dan Sang Anak

Seorang anak bertanya pada ayahnya, “Mengapa Ayah tadi ikut makan bersama tamu? Apakah Ayah lupa kalau hari ini sedang berpuasa?”

Ia terkejut dengan jawaban sang Ayah.

“Ayah tidak lupa. Ayah sengaja berbuka.”

“Ayah pernah bilang, bahwa puasa itu harus karena Allah. Jelas-jelas Ayah berbuka karena ada tamu, mengapa Ayah bilang itu juga karena Allah?” Sang anak melipat dahi, berpikir, tak mengerti.

Dengan tenang, Ayah menjawab kebingungan anak sulungnya. “Ayah hari ini puasa sunnah. Dan Ayah sengaja membatalkan puasa karena Ayah ingin memuliakan tamu Ayah.”

Ayah tahu jawaban itu belum memuaskan rasa penasaran sulungnya. Maka, Ayah pun bercerita tentang sahabat rasul yang ia dapat dari guru ngajinya beberapa waktu yang lalu.

Adalah Salman Radhiyallaahu ‘anhu – seorang sahabat Rasulullah – bertamu di kediaman Abu Darda Radhiyallaahu ‘anhu, yang mana ketika itu Abu Darda Radhiyallaahu ‘anhu sedang berpuasa (sunnah). Abu Darda menyuguhkan jamuan untuk Salman. “Makanlah, saya berpuasa,” katanya. Salman menjawab, “Saya tidak akan makan, jika engkau tidak makan bersama saya.” Akhirnya Abu Darda pun membatalkan puasa dan makan bersama Salman. Keesokan harinya, Abu Darda menyampaikan kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaih wa sallam tentang kisahnya dengan Salman, dan Rasulullah membenarkan Salman.

“Karena itulah, Ayah sengaja berbuka agar Om Fulan tidak segan memakan apa yang Ayah suguhkan.”

Sejauh itu, sang anak bisa menerima penjelasan ayahnya. Tapi, ada satu hal yang belum bisa ia pahami. “Jika Ayah memuliakan tamu, mengapa Ayah mengusir Om Fulan?”

Kali ini Ayah yang terkejut. Tak pernah ia mengusir seseorang dari rumahnya. Tidak kali ini, tidak juga di waktu-waktu yang lain.

“Ayah memang tidak terang-terangan mengusir Om Fulan, tapi sejak Ayah mengajak shalat berjama’ah di mushala, Om Fulan langsung pamit pulang,“ sang anak menjelaskan.

Ayah tersenyum ringan. “ Ayah tidak bermaksud mengusir Om Fulan, Ayah hanya mengajaknya shalat ketika adzan Dzuhur berkumandang.”

“Ayah bisa saja shalat di rumah, dan tidak harus saat itu juga!” protes sang anak.

“Kamu tahu, pahala terbesar adalah shalat yang dikerjakan di awal waktu, secara berjama’ah, dan bagi kaum laki-laki lebih utama di masjid atau di mushala?”

“Apakah bukan karena Om Fulan tersinggung dan marah? Jangan-jangan dia kapok, tidak mau main ke sini lagi, Yah?” sang anak khawatir.

Ayah kembali tersenyum ringan. “Ayah rasa kekhawatiranmu terlalu berlebihan. Insya Allah Om Fulan baik-baik saja. Ayah kenal baik Om Fulan. Dan satu yang harus kamu ketahui, memuliakan tamu bukan berarti menggugurkan kewajiban kita lainnya kepada Allah. Om Fulan bisa saja shalat di rumah kalau memang dia enggan Ayah ajak shalat di mushala, Ayah tak bisa memaksanya. Ayah mengajak shalat di mushala bukan tidak memuliakan tamu, justru Ayah ingin berbuat kebaikan dengan mengajak tamu Ayah,” panjang lebar Ayah menjelaskan. “Intinya, Om Fulan pamit pulang bukan karena ayah mengusirnya. Insya Allah, dia tidak tersinggung, marah, apalagi kapok silaturrahim ke sini. Barangkali dia ada kepentingan lain, dan sebenarnya sudah dari tadi ingin pulang tapi bingung mencari alasan.“

Sang anak mengangguk, mengerti. Jelas sudah kini semuanya. Dan untuk terakhir kalinya, ia bertanya. “Yah, boleh nda kalau bada’ maghrib nanti teman-temanku main ke sini? Bukan untuk belajar bersama, hanya main saja, sama seperti biasanya.”

“Boleh saja, silahkan!” jawab Ayah. “Tapi kamu tidak lupa mengatakan pada mereka, bahwa bada’ Isya kamu ada jadwal mengaji, kan? Kalau mereka ingin lama, sebaiknya kamu tawarkan untuk datang lain waktu saja. Ayah tidak ingin kamu bolos ngaji. Ajaklah mereka untuk ikut ngaji bersamamu. Kalaupun mereka tidak mau, bukan berarti kamu boleh membolos. Muliakanlah tamumu, tapi jangan sampai kau abaikan kewajibanmu!“

TAQWA

Maju mundur? Seperti kendaraan saja ya? Kok bisa sih? Ya, taqwa itu adalah maju mundur. Maju dalam hal berbuat kebaikan dan mundur dalam hal berbuat kemungkaran. Ternyata betul, taqwa itu seperti halnya kendaraan. Kendaraan taqwa ini hanya akan jalan jika diisi dengan hal yang makruf, yaitu segala sesuatu yang baik. Kebaikan merupakan bahan bakar dari kendaraan taqwa ini. Jika suatu kendaraan tidak diisi dengan bahan bakar yang sesuai, pastinya mesin kendaraan tersebut tidak dapat bekerja. Dalam hal ini dapat dipastikan kendaraan ini tidak akan bergerak.

“Aku khawatir terhadap suatu masa yang roda kehidupanya dapat menggilas keimanan. Keimanan hanya tinggal pemikiran, yang tidak berbekas dalam perbuatan. Banyak orang baik tapi tak berakal. Ada orang berakal tapi tak beriman. Ada lidah fasih tapi berhati lalai. Ada yang khusyuk, namun sibuk dalam kesendirian. Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis. Ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi. Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, dan ada yang banyak menangis karena kufur nikmat. Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat, dan ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut. Ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan, dan ada pelacur yang tampil jadi figur. Ada orang punya ilmu tapi tak paham, ada yang paham tapi tak menjalankan. Ada yang pintar tapi membodohi, ada yang bodoh tak tau diri. Ada orang beragama tapi tak berakhlak, dan ada yang berakhlak tapi tidak bertuhan. Lalu di antara semua itu di mana aku berada?” (Imam Ali bin Abi Talib R.A.).

Inilah renungan yang harus kita jawab masing-masing tanpa mengkhianati diri sendiri dengan kebohongan yang tidak akan pernah diterima oleh akal sehat manusia sebagai makhluk yang mulia.

Kawan . . .

Ketika kehidupan memberimu seribu alasan untuk menginginkan sesuatu, pahamilah bahwa Allah punya sejuta pengetahuan akan kebutuhanmu. Awali setiap hari indahmu ini dengan rasa syukur, nikmati tiap detiknya dengn ketetapan hati dan akhri kelelahan hari ini dengan seulas senyum dan ikhlas. Cukupkan Allah sebagai saksi dan tujuan, karena Dia-lah sebaik-baik pemberi balasan.

Taqwa itu adalah maju mundur, kawan! Bersanding dengan keimanan yang berperan mengendalikan taqwa. Bahan bakar yang murni untuk menggerakkan mesin agar tetap maju. Menghindari kerusakannya dengan kejahilan.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.