Menjadi Muslimah Yang Dinanti (Bag. 1)

~Atik~

DAFTAR ISI

1. Kita ingin dikenal sebagai apa ?

2. Pilihan hidupku.

3. Siapa takut jadi akhwat ?

4. Surga sebelum surga

5. Akhwat futur, siapa yang bertanggungjawab ?

6. Muslimah manja

7. To be a happy single

8. Menyadari kehadiran penolong kita

9. Menjadi muslimah yang dinanti

10. Kalau ada yang terbaik itu untukmu..

11. Bahagia.kemana harus dicari ?

12. Lingkaran dengan sebuah titik ditengah

13. Kemudahan yang melenakan

14. XL girl..siapa takut ?!

15. Terbangkan Layang-layangmu

16. Menanti pangeran impian

17. Mo menikah ? Sabar dong !!

18. Dicari wanita cerdas

KITA INGIN DIKENAL SEBAGAI APA ?

Kita mengenal orang lain dengan apa-apa yang mereka lakukan. Dengan Apa yang menjadi kebiasaannya, atau yang telah menjadi karakternya. Atau apa yang sering dialakukan. Kita mengenal orang cengeng, karena dia senang sekali mengungkapkan perasaannya dengan menangis. Kita mengenal orang pemarah karena mengenalnya sering mengungkapkan rasa kekesalannya dengan kemarahan dan lain sebagainya. Dan seharusnya kita juga menyadari, bahwa kita juga dikenal orang karena kebiasaan kita. Karena apa-apa yang kita lakukan. Dan itu seharusnya sudah cukup mampu untuk membuat kita waspada dengan apa yang kita kerjakan.

Ketika kita menyebut Abu Bakar ash siddiq, apa yang kita kenang dari beliau ? Kejujurannya, ketsiqahannya kepada Rasullullah, Tadhiyahnya. Kita kenal Ali bin Abi Thalib dengan keberaniannya, dengan ilmunya, dengan kegemarannya puasa di hari yang terik dalam jihad fi sabillillah. Ustman dengan kedermawanannya, sifat pemalunya, Umar bin Kattab dengan keadilannya dan kita pun mengenal sahabat yang lain dengan ahsanu amalanya masing-masing. Pertanyaannya dengan apa kita akan dikenal oleh orang lain,  Tidak usahlah terlalu muluk dalam lingkup sampai bisa menoreh sejarah dan nama yang selalu dikenang sepanjang masa seperti para pahlawan besar. Tapi bagi sesuatu yang sangat dekat dan sangat esensial bagi hidup kita.  Sesuatu yang sangat asasi. Kita mengetahui bahwa surga terdiri dari banyak pintu. Dan pintu-pintu itu tidak bisa kita masuki kecuali kita mempunyai passwordnya. Tanpa itu kita tidak akan diijinkan masuk kedalamnya.  Kedalam surga yang penuh kenikmatan yang belum pernah disaksikan manusia itu. Kita kenal pintu puasa, dan hanya orang-orang yang ahli syaum saja yang diijinkan masuk surga melalui pintu ini. Kalau antum bukan ahlinya, jangan berharap bisa masuk lewat pintu ini. Penjaganya tidak bisa kita ajak nego.

Kita juga kenal pintu-pintu yang lainnya, pintu zakat, sodaqah, pintu jihad, dan pintu yang lainnya. Nah.. sekarang, ingin dengan pintu yang mana kita masuk ke sana ? Ketika kita memilih salah satunya, berarti kita harus mempunyai passwordnya. menjadi ahlinya !

Kita tidak seberuntung Abu Bakar yang dia dikabarkan oleh Rosullullah diijinkan masuk ke Surga lewat pintu manapun. Karena pada kenyataannya, Abu Bakarlah pemilik hampir semua password pintu-pintu itu. Satu-satunya cara adalah..kita harus mulai menetapkan password apa yang ingin kita miliki. Dan menjadikan itu sebagai ahsanu amala kita sehingga ketika berdiri di pintu yang kita maksudkan, pintu itu membuka untuk kita karena dia bisa mengenali password kita.

Kita kejar ahsanu amala kita mulai sekarang. Ketika kita menginginkan Qiyamul Lail sebagai ahsanu amal kita, jadikan QL sebagai kebiasaan kita. Jadikan dia sebagai karakter kita. Qiyamul Lail adalah energi hidup kita. Dari kebiasaan itu, nantinya kita akan memetiknya sebagai karakter. Ada kalanya memang penanaman karakter melalui pembiasaan ini membutuhkan pemaksaan. Kalau diri kita masih ada kelemahan untuk mengejar amalan kita, paksadiri kita ke sana. Kadang memang untuk menjadi baik harus di paksa. Dengannya, kita berharap ia akan menjadi ahsanu amala kita. Perlu diingat, ahsanu amala setiap orang bisa jadi berlainan. Sama beragamnya dengan potensi manusia yang dititipkan oleh Allah kepada kita. Tugas kita adalah menggalinya dan menjadikan itu sebagai icon diri kita di depan Allah.

Adalah saat terindah ketika kita diijinkan oleh Allah..menghampiri pintu surga yang kita maksud, dia bisa mengenali password kita. Jangan sampai kita sudah berjalan dari satu pintu ke pintu surga yang lainya tak satupun pintu itu yang mengenali kita karena memang tak ada satupun password yang kita punya. Dan akhirnya hanya tinggal satu pintu saja yang menganga yang menanti kita dan kita dia sangat mengenali password kita�yaitu pintu neraka jahanam�karena passwordnya telah kita pegang�yaitu ahli maksiat. Naudzbillah min dzalik !

Walluhu’allam bishowab !

untuk diri ini jangan pernah bosan untuk memaksa diri untuk menjadi lebih baik darihari ke hari.. untuk sodaraku semua�pilih salah satu pintu dan pegang passwordnya!!

Sumber: pagi2 yg basah ingat kelalaian diri..

PILIHAN HIDUPKU..

Saya tidak suka dikasihani. Kalau ada yang mendoakan, saya akan sangat

berterimakasih. Saya lebih memilih untuk melihat apa-apa yang bisa membahagiakan

saya daripada yang menjadikan saya menderita.  Jawabnya..  Jawaban yang membuat

kami akhirnya salah tingkah.

�Saya tidak melarang orang kasihan dengan saya, karena orang lain jelas diluar

jangkauan saya. Tapi jangan pernah di hadapan saya. Saya tidak suka !� katanya seakan

meminta pengertian kami semua.

Awalnya, ada salah satu adikku yang mungkin karena dibawa rasa penasaran,

menanyakan padanya bagaimana perasaannya ditinggal menikah oleh dua adik

perempuannya. Halaqoh yang selalu heboh setelah materi selesei�saat itu tiba-tiba

menjadi salah tingkah semua.

Akhirnya beliau mengatakan, semua dari kita hanya menjalani takdir saja. Semua

tergantung diri kita, kalau kita ingin memilih bahagia, pilihan itu akan selalu ada. Tapi

kalau kita dengan sadar memilih untuk menderita, pilihan pun dihadapan kita.

Benar..Bahagia adalah pilihan. Bukan sesuatu yang disodornya yang mesti kita jalani.

Hidup itu isinya memang itu. Kalau kita ingin bahagia, dimata banyak orang adalah

penderitaan..bisa jadi adalah jalan kebahagiaan buat kita. Yang dimata manusia adalah

sumber kebahagiaan, bagi kita tak lebih adalah penderitaan semata. Tergantung diri

kita.

Tidak semua orang bahagia dalam berlimpahnya harta. Tidak semua bahagia dengan

pasangan yang berwajah apik. Juga tidak semua bahagia ketika dititipi anak yang

punya kelebihan.

Begitu juga, tidak semua manusia sengsara dengan kefakiran. Tidak semua sengsara

ketika menunggu masa penantian. Juga tidak semua harus menderita ketika Allah tidak

memberikan amanah berupa anak. Itulah dunia kawan�

Beliau walaupun menjadi binaanku, tetapi secara usia berada di atasku. Justru adiknya

yang seangkatan denganku. Beberapa tahun diatasku� Awalnya memang agak kikuk

juga, tetapi amanah itu kuterima juga, karena kupikir aku bisa belajar banyak dari

pribadinya. Pasti ada yang istimewa atau paling tidak dengan mempunyai binaan

seperti beliau, membuat aku menjadi dewasa, walau dewasanya seringnya muncul pas

ngisi liqo� aja..he..he.. Di luar halaqoh ? ..sering lebih ganjen dari adik binaanku yang

rata-rata heboh semua..hehehehe�

Kalau beliau ingin tidak bersyukur, istilahnya jalan menuju kesana sangat terbuka lebar.

Dari lima bersaudara, hanya dia seorang yang tidak mengenal bangku kuliah. Semua

saudaranya kuliah semua. Tiga adiknya masuk STAN. Satu adik perempuannya juga

kuliah di PTN kotaku, tahun lalu dia diterima menjadi PNS daerah.

Dari segi fisik, beliau mempunyai kekurangan. Matanya tidak awas, sehingga kalau

membaca tulisan ia dekatkan sampai hampir menempel di mukanya. Ditambah

lagi..dua adik perempuannya sudah menikah.

Apa yang terbayang tentang beliau ? Kalau dia memilih untuk tidak bahagia, jalan itu

terbuka lebar..malah akan dibantu oleh syetan untuk mencari-cari lagi kekurangankekurangannya

yang lain. Yang tentu saja kalau itu dirasakannya dan matanya hanya

terfokus kesana..aku percaya, hidupnya saat ini tidak akan pernah kering dari airmata.

Tetapi pilihan itu telah ia jatuhkan. Ia memilih untuk bersyukur, memilih untuk

bahagia. Dia tuntun adik-adiknya satu persatu untuk mengenal islam lebih baik. Ia

awasi dua adik laki-lakinya yang sekarang masih di STAN.

Dia ajak dua adik perempuannya untuk ikut tarbiyah juga. Kakak beradik tiga-tiganya

adalah binaanku. Dari adik binaanku, dia yang paling aktif untuk menularkan kebaikan

pada orang sekitarnya. Seingatku, beliau telah membentuk empat kelompok halaqoh.

Dari pengajar di TPAnya, teman sepermainannya, tetangga-tetangaanya dan ibu-ibu di

kampung tempat tinggalnya. Dia pun tidak keberatan untuk halaqoh beberapa kali

untuk menemani adik-adik yang masih baru ngajinya.

Hari-harinya dia penuhi dengan amal yang paling mungkin bisa dia kerjakan. Menjadi

koordinator dua LAZ milik ikhwah. Satu yang berpusat di Surabaya , satunya asli

kotaku. Juga mengajar TPA. Tentu saja, disamping setiap hari membuat jamu untuk

dijual kedua orang tuanya. Karena memang dari keahliannya itulah dia bisa membantu

biaya sekolah adik-adiknya.

Aku termasuk yang bersyukur bisa mengenalnya. wanita yang tangguh. Yang mampu

menetapkan dirinya untuk bahagia. Lebih bersyukur lagi, aku diberi kesempatan oleh

Allah untuk menemani tarbiyahnya..walaupun sesungguhnya beliaulah Murobbi

kehidupanku.

Begitu pun dengan kita, kita akan bahagia, asal kita memilih untuk bahagia. Sedang

kalau ingin kita berkubang dalam kekurangan, penyesalan dan kesedihan�syetan akan

membantu kita menemukan jalannya. Dan itu teramat mudah.

Ketika kita punya motor, musim hujan seperti ini..terus menerus kita bersedih, kenapa

tidak mempunyai mobil yang bisa melindungi kita dari hujan. Ketika kita sudah

menikah, kita masih saja bersedih karena pasangan kita tidak seperti apa yang dulu kita

harapkan. Sudah punya anak pun masih saja dibawa bersedih karena melihat anak

tetangga lebih segalanya dari anak kita.

Tidak akan pernah selesei. Kalau ingin bersyukur, lihatlah kebahagiaan dan

keberuntungan dalam diri kita, sehingga timbul rasa syukurmu. Kalau melihat

kesusahan, lihat kesusahan orang lain, sehingga timbul syukurmu. Untuk urusan dunia,

lihatlah kebawah. Untuk akhiratmu..lihatlah atasmu. Itu pesan Nabi untuk kita. Jangan

pernah ditukar.

Wujud kesyukuran dalam kesempitan kita adalah bersabar. Sedangkan wujud

kesabaran kita dalam lapang kita adalah bersyukur. Begitu kata orang bijak.

Wallahu�allam bishowab !

Untuk diri yg dhoif ini�senantiasa bersabar dan bersyukur..itu aja deh !

Sumber: pelangi hidupku..

SIAPA TAKUT JADI AKHWAT ?

Kesannya kok serem banget. Susah banget jadi ikhwah itu. Palagi sampe jadi aktivisnya.

Sehingga sampai harus berpikir dua kali ketika diajak bergabung halaqoh atau masuk

ke dunia ikhwah. Itu kesanku ketika beberapa kali mengalami penolakan ketika

mengajak orang untuk bergabung dengan kafilah dakwah ini. Hanya untuk mengikuti

kajian rutin saja, mereka menolak. Ada apa sih ? Toh..sebenarnya itu semua untuk

kepentingan mereka sendiri. Jawabannya, kadang belum siap, takut, serem dll. Mang

susah ya jadi ikhwah itu ?

Bahkan ketika lebaran kemarin�mantan gengku waktu SMA silaturahim ke

rumah�aku sempat bertanya, kenapa sih kok ga jadi ikhwan ? Padahal kan di

Perguruan Tinggi favorite tempat mereka dulu kuliah kutahu marak banget kegiatan

keislaman seperti yang kukenal. Sapa yang ga ngerti UI, UGM, ITB, IPB ?

Eh..jawabannya tak terduga, ..serem katanya !

Mosok serem sih ? Perasaan biasa aja sih..sesuai dengan fitrah kita sebagai hamba Allah.

Ga ada yang menyimpang sama sekali kok ! Eh malah di timpalin…iya kamu aja yang

akhwat jadi-jadian jadi tidak seperti itu ! Weleh perlu tersinggung nih…. Mang seperti

apa sih yang ikhwah sungguhan ? tanyaku…

Katanya…Jadi ikhwah itu menyeramkan ! Tidak boleh ini, tidak boleh itu…pokoknya

yang bau dunia yang �indah-indah� tidak ada dalam kamus mereka. Pokoknya harus

seriuuuuuuuusss mulu ! Kaku, pokoknya isinya cuma ngaji, ngaji dan ngaji aja.

Hehehe…tak tahu dia…

Lihat konser musik ga boleh, pacaran ga boleh, pake baju yang seksi ga boleh. Wis

pokoknya hidup mesthi lurus-lurus aja ! Aku cuma nyengir doang…habisnya aku ga

ngerasa githu sih..aku ga ngerasa kalo jadi akhwat itu susah, yang terikat dengan begitu

banyak aturan, dan lain-lain, yang akhirnya seakan hidup kita jadi ga enjoy

blass…adanya cuma tilawah, ngaji, jihad, dakwah..dll. Mang bagian itu iya, tapi ga mulu

itu aja deh perasaan.

Kalo ga boleh pacaran (ngedeketin zina), harus pake jilbab, ga boleh mabuk-mabukan,

ga boleh makan barang haram,..itu sih, ga jadi ikhwah pun ya memang harus seperti itu

aturan mainnya. Kecuali kalian bukan mengaku beragama islam, yang berpedoman

pada al qur�an dan as sunah. Itu sih..aturan yang memang dari sananya dah cetho welowelo

yang ga butuh penafsiran lain.

Tapi ketika pagi tadi tak pikir-pikir…memang ada sih beberapa �etika� di ikhwah yang

akhirnya jadi menimbulkan kesan, kalau jadi ikhwan atau akhwat tuh susaaaaaahh

banget. Itu �etika juga ga jelas siapa yang tandatangan sebenarnya. Tapi jadi seperti

pakem. Yang sering juga aku dibuat keqi dengan �etika� itu. Mungkin sering kenanya itu

kali..

Aku mungkin masuk dalam kategori akhwat jadi-jadian itu kali ya..jadi sering kena

tegur, taujih atau sindiran atau malah jadi sumber gara-gara. Lupa aku, berapa kali

harus berurusan sama yang seperti itu. Ups..berarti ndableg bener aku ya..Weleh…. Juga

aku baca beberapa artikel yang menyayangkan atau ga setuju dengan akhwat atau

ikhwan yang �keluar jalur� dari jalur etika umum itu.

Diantaranya pernah ada yang protes dengan hobi kami. Waktu itu olahraga rutinku

masih tenis lapangan dan renang, Aku memang sukanya memang rame-rame. Aku ajak

aja adik-adik untuk bergabung. Hasilnya ? Hame pasti�! Eh, ada beberapa suara yang

tidak suka dengan olahraga kami. Akhwat itu ga pantes renang, atau tennis di lapangan

githu� nanti kalau kelihatan laki-laki gimana ? Mendhing buat kegiatan yang pantes

githu lho�masak kek, jahit atau yang lainnya. Coba buat baca buku..dapet berapa aja

tuh ?

Aku termasuk yang sewot. Kok segithunya sih? Memangnya kita-kita jadi tidak baca

buku hanya karena tennis atau renang. Lagian kita juga dah mikir lah�aturannya juga

kan tidak kami langgar, renangnya juga kan tidak campur ma laki-laki. Renangnya juga

pake baju panjang dan jilbab.

Juga pas tennis, juga ga campur sama lain jenis githu, nutup aurat juga. Kalo ada

kepergok laki-laki (yang jaganya)..biasanya yg tadinya teriak-teriak pasti akan segera

berubah sikap, jadi kalem..hehehe..

Juga soal jilbab ceria yang beberapa kali kubaca dari beberapa majalah. Intinya tidak

pantes banget akhwat tuh pake baju ceria githu. Penyebab fitnah, malah ada yang

menyindir dengan istilah akhwat high class.

Aku pengalaman hampir tiap kali dapat sindiran kalau lagi pakai baju kantor.

Akhwat�baju kok genjring banget githu lho� Ya, gimana lagi, seragam kantorku

memang dah gini, senin hitam putih, selasa orange cerah (lihat tablet fitamin Vit C, lihat

bajuku deh..), rabu merah (bukan sembarang merah, tapi merahnya merah ), kamisnya

hijau segar, Jum�atnya karena aku piket TPT, dapet seragam batik kuning cerah.

Kebayang kan betapa cerianya hari-hariku ?

Karena ga betah dengan sindiran soal cerianya baju ngantorku, aku siasati pake jilbab

hitam, berharapnya nyala bajuku bisa keredam. Weh..tapi akhirnya ga betah

juga..mosok dari senin sampai jum�at, jilbab hitam mulu karena biar matching ma

roknya ? Dan pakai jaket kalau ada acara ikhwah pas jam-jam kantor. Itu aja masih aja

kena sindir karena jilbabnya yang ceria itu. Tapi lama-lama EGP aja..mang akhwat

mesthi bajunya gelap aja?

Juga, beberapa pakem, seperti.. ga ahsan pake jaket dan jilbab dimasukin. Atau juga

pernah ada julukan akhwat selebritis untuk akhwat-akhwat kampus yang pakai tas

gamblok di punggung.

Rese� banget ya�dan susah banget githu kesannya mo jadi akhwat. Pa lagi kalo yang

ngikut anggapan, musik/nasyid haram, fiksi haram, ini itu ga boleh.. bid�ah !

Byuh..tentu lebih jauh lagi. Pa iya sih..syariat islam itu begitu susahnya dan begitu

seramnya. Yang kutahu sih..islam itu indah dan membahagiakan yang memeluknya.

Kalau itu tidak melanggar syari�ah..atau masih berkutat pada masalah yang masih

khilafiyah (ada perbedaan pendapat) ..napa mesthi kita ribuuuuuut mulu? Jadi

menimbulkan kesan mo jadi ikhwan atau akhwat aja kok susah banget. Akhirnya malah

terjebak pada masalah yang tidak esensial. Lebih ngributin akhwat berjilbab ceria

daripada prihatin dengan kasus dilarangnya pakai jilbab yang nyar�i di beberapa

instansi misalnya.

Aku tidak menafikkan bahwa da�wah ini, tidak akan terhasung kecuali oleh orangorang

yang senang mengambil rukhsah (keringanan). Tapi apa iya sih, orang-orang

yang serius itu jadi sebegitu kakunya ? Sampai �sampai kehilangan oase jiwa,

romantisme dan rasa seni dalam dirinya.

Yang tawazun aja lah�tapi juga jangan terlalu sak kepenak e dewe. Memang lucu

sih�kalau hanya dateng ke taklim aja, dandannya seperti mau ke pesta walimahan.

Memang mata jadi sepet juga mandangnya kan ? Kasihan juga lah ma ikhwan yang

tersepona.Tahu tempat aja lah..

Atau bernasyidnya mengalahkan tilawahnya. Baca komiknya, novel, dll..mengalahkan

buku-buku yang menambah tsaqoffah islamiyahnya. Koleksi bukunya kalah sama

koleksi barang lucunya.

Atau segithu kencengnya menjaga hijab, sampai cara ngomongnya lebih mirip

ngebentak daripada sekedar ngomong. Judes amat �biasa ajalah. Suer, mengalir

ajalah�nikmat kok jadi akhwat tuh..selamat dunia akhirat deh. Dan ga akan ada istilah

bosan jadi akhwat (istilah lainnya futur ngono lho..) buktiin deh..

Eit’s…tunggu, aku nulis ini bukan hendak membela diri, aku mang dah stelannya begini.

Gi mati-matian berproses. Atau juga aku apriori ma ikhwan akhwat yang jempolan itu,

dan mempengaruhi yang lain untuk tidak seperti mereka. Bukan ! Kepada mereka yang

lurus-lurus aja, aku acungin lima jempol deh..(satu pinjem temen bentar ya..). Aku

malah suka membayangkan yang indah-indah soal sampeyan lho…Suer !

Kalau nasyid aja diharamkan, fiksi diharamkan, wah..tahu tidak, bayanganku soal

sampeyan itu, tilawahnya sehari bisa berjuz-juz, hafalan qur’annya wuih..ga kebayang

dah. Soalnya kan ga mungkin mengharamkan nasyid, tapi menikmati DEWA atau

Peterpan kan ? Fiksi haram, Pi Harry Potter jalan…kecuali kalau semua itu cuma wacana

doang. Ilmu tanpa amalan.

Pokoknya wuih aja deh… kalau tidak sampai seperti itu, lha waktu yang begitu banyak,

buat apaan aja ? buat tidur dan bengong aja ? atau habis buat…hm..hm..jiddal ya ?

hehehe..afwan..ga kebayang githu lho..

Soalnya, sodaraku yang anggota tim nasyid tenar aja, suka konser kemana-mana, bisa

tilawah seharinya lebih dari satu juz, hafalan qur’an lebih dari lima juz. Juga ikhwah

yang suka demo, amanah banyak aja baca bukunya bisa begitu banyak. Pakai logika

wong bodo aja sih aku..

Salut kok dengan ikhwah yang model lurus-lurus githu..dah pinter, aktivis, hijabnya

kenceng..pokoknya yang indah-indah deh… Tapi bukan berarti kami-kami yang masih

merangkak tidak berhak untuk gabung di kafilah dakwah ini kan ? Karena

kuyakin..islam itu indah, tidak mesthi seragam lah semuanya itu..pi berproses githu

lho..dan sepertinya juga tidak harus seperti pakem itu lah..(hehehe..itu menurutku seh…

Jadi ikhwah itu sesuai fitrah kok…jangan ngeri lah !

So, sapa takut jadi akhwat ? Jadi aktivis sekalipun,�enjoy aja lagi !

Sumber: lihat ekspresi sodariku ketika lihat seragam kantorku..

SURGA SEBELUM SURGA.

Pernah nonton Harry Potter yang edisi Prisoner of Azkaban? Bagiku, kisah khayalan itu

selalu menarik, unik sih..JK Rowling cerdas banget nyari sesuatu yang tidak-tidak..yang

tidak nyata. Dari edisi awal aku menyukai. Aku punya lengkap novel atau CD filmnya.

Diiih�amit-amit deh..akhwaaaaaaaaattt�!! Abisnya daya khayalnya memang

memanjakan makhluk yang suka kurang kerjaan sepertiku.

Tak ceritain dikit ya�pi janji, ga usah penasaran sama Harry Potter�Dalam edisi

Prisoner ini, ada edisi Harry berhadapan dengan Demintor, makhluk mengerikan

penjaga penjara Sihir Azkaban. Satu-satunya cara untuk mengusir si Demintor, Harry

harus menciptakan Patronus dari tongkatnya. Dengan mengucapkan mantra Expecto

Patronum !

Bagian itu menjadi menarik bagiku karena Patronus hanya bisa diciptakan dengan

mengingat sesuatu yang paling bahagia dalam hidup kita. Suatu yang sangat kuat

dalam hati dan ingatan sehingga menciptakan energi yang luar biasa. Dan si Harry

memilih ingatan khayalan antara dia dengan ayah ibunya. Dan itu membahagiakannya

karena dia hidup yatim piatu dan di pelihara oleh keluarga pamannya yang sadis

kepadanya. Bukan berarti segithu menghayatinya lho…

Kira-kira kalau kita, apa sih saat dalam hidup yang membuat kita paling bahagia ? Saat

yang paling bahagia, ketika diingat akan menciptakan energi yang luar biasa dalam diri

kita. Ia bisa menjadi penggerak hidup kita. Sekali lagi…aku bukan hendak mengajak

antum semua masuk ke dunia si Harry. Hanya mengajak kita merenungkan saat

bahagia dalam hidup kita.

Kalau kita meletakkan saat bahagia adalah kebersamaan kita dengan pasangan, saat

letih karena kerja kita, ketika mengingat senyum manis pasangan kita, hati akan tentram

dan semangat bekerja untuk bisa membahagiakannya.

Ketika kita meletakkan kebahagiaan ada pada anak-anak kita, secapek apapun raga ini,

ketika apa yang kita lakukan itu kebahagiaan anak kita, bukankah kita bahagia saja ?

Mengingat tingkah lucunya saja mampu membuat kita semangat kembali.

Dan kebahagiaan yang kita rasakan dalam hidup itu akan membuat kita akan selalu

berusaha mengulang saat-saat itu ? Ketika kita jauh dari pasangan kita, ada perasaan

untuk cepat-ceat bertemu dengannya, menatap senyum manisnya, karena kebahagiaan

kita di sana. Begitu juga, Ketika anak adalah saat bahagia kita, saat-saat bercanda

dengannya adalah saat yang kita nantikan.

Kalau kita baca ungkapan para salafus sholih…kutemukan saat bahagia mereka disana.

Yaitu saat dekat dengan Robbnya. Malam-malam yang penuh dengan munajat

kepadaNya. Itulah saat bahagia mereka. Bahkan ada ungkapan �Seandainya para raja

dan pangeran itu mengetahui kebahagiaannya bermunajat kepada Allah di waktu

malam, niscaya mereka akan merampasnya dengan pedang-pedang mereka�.

Subhannallah ..saat berdialog dan saat penghambaan itulah saat paling bahagia bagi

mereka.

Atau pernah baca tentang permohonan orang-orang yang mati syahid kepada Allah

untuk dihidupkan lagi dan kemudian jihad lagi dan mati syahid lagi. Apa bahagianya

sehingga mereka ingin mengulang-ulang kematian itu ?

Iseng aku pernah tanya sama Masku..kenapa ya mereka pingin mengulang-ulang

kematian mereka ? Sakit kan..saat dicabut ruhnya, saat di tembak, saat digantung atau

saat ditebas tubuh mereka.

Dasar Masku…dengan iseng dia bilang, gimana ga pingin mengulang adegan itu dik ?

Bukankah saat ruh terpisah dari raganya mereka telah disambut oleh 72 bidadari ?

bayangakan…72 bidadari tersenyum padanya ? Tahu kan, andaikan setetes keringat

bidadari itu terjatuh di lautan dunia maka akan membuat wangi seluruh alam raya ? lha

ini dhe�…72 bidadari…Bayangkan !!� Diiiiiihh…dasar ikhwan..bidadari mulu yang ada di

ingatan.

Seandainya kita juga mampu menjadikan saat-saat kebahagiaan dalam hidup kita

adalah dialog-dialog dengan Robb kita disepertiga malam kita, tentu tidak akan pernah

terlewat malam tanpa bermunajad kepadaNya.

Seandainya berjihad di jalan Allah adalah saat terindah dalam hidup kita tentu tak akan

ada waktu tersia. Ngerumpi, pacaran, nongkrong daaaann…baca Harry Potter !

Ups !! …astagfirullah…ampun�ampun ya Allah… yang masih sangat lemah dengan

godaan kesiaan dunia… Semakin kelihatan kerdilnya diri ini mengingat kesia-siaan ini.

Ampuni kami ya Allah� insyaAllah deh dikurangi.

Kata Ust. Arifin Ilham..ketika kita telah mampu menjadikan munajat kita kepada Allah

dan jihad sebagai amalan yang sangat membahagiakan kita. Yang tentu saja, setiap saat

kerinduan akan itu akan semakin kuat dan menjadikan kita terus menerus untuk

melakukannya�itulah surga sebelum surga ! Subhannallah..pribadi yang bisa

melakukannya..Wallahu�allam bishowab !

Sumber: nonton harry pagi2..

AKHWAT FUTUR, SIAPA YANG BERTANGGUNG

JAWAB ?

Ada sebuah rangkaian unik di dalam kehidupan berjamaah kita. Yang satu bisa

mempengaruhi yang lainnya. Bahkan sampai masalah keistiqomahan. Bahkan sebab

yang satu bisa berpengaruh ke yang lainnya. Bisa saling menguatkan atau malah

melemahkan. Masalah keteladanan.

Banyak sudah telah kita dengar, akhwat yang futur karena kecewa dengan

Murobbiyahnya/ Ustadzahnya. Atau adik-adik tingkat yang akhirnya tidak mau lagi

ngaji karena kecewa dengan kakak tingkatnya yang sebelumnya dikaguminya.

Kelihatannya amat naif..tapi itulah yang terjadi.

Tetapi sebaliknya, banyak juga yang kita jumpai seorang akhwat yang melejit karier

dakwahnya, karena kekagumannya kepada Murobbiyahnya atau kakak tingkatnya

yang telah lama berkecimpung di dalam jama�ah.

Dulu, (semoga sekarang tidak lagi..) Saya termasuk akhwat yang mudah

terpengaruh oleh pribadi-pribadi di luar diri saya. Dalam waktu singkat bisa

membuat saya begitu apresiatif dengan amanah da�wah. Tapi juga bisa membuat

saya mati langkah karena kecewa dengan figur senior yang telah terlanjur bagus di

benak saya.

Masih sangat lekat dalam ingatan..beberapa kejadian yang kemudian menjadi

penguat di kemudian hari. Saat itu kami mengadakan baksos. Kepanitiaan banyak

melibatkan akhwat juga ummahat. Ada seorang ummahat yang dengan semangat

sekali memberesi meja..dari meja satu terus pindah meja yang lainnya. Pokoknya

semangat sekali beliau saat itu. Padahal..kondisinya sedang hamil besar. Ternyata

tanpa beliau sadari, pemandangan itu memberikan suntikan semangat di benak

kami..para akhwat..bahkan banyak yang menyimpannya di file bawah kesadaran dan

menjadikan semangat di kemudian hari.

Juga, suatu saat, Yayasan kami mengadakan Baksos di luar kota . Ada Ummahat

yang walaupun sedang hamil muda, beliau tetap bersikeras untuk menghadirinya.

Padahal kondisinya tidak terlalu bagus saat itu. Entah karena ingin mendampingi

kami atau sebagai wujud tanggungjawab beliau sebagai ketua Yayasan. Perjalanan

ke luar kota dengan sepeda motor kala itu..yang sebenarnya tidak terlalu jauh,

beliau muntah-muntah sampai tiga kali. Dan..benar juga ..kehadiran beliau amat

mempengaruhi semangat adik-adik yang sudah dari pagi disana.

Dari diskusi beberapa kali dengan adik-adik�ternyata ada sebuah semangat untuk

tetap istiqomah di jalan ini, atau untuk tetap semangat mengemban amanah dakwah

karena faktor teladan. Faktor ingatan akan seseorang yang pernah dikenangnya.

Dan akhirnya pada kesimpulan bahwa alangkah pentingnya faktor teladan ini.

Memang hal seperti ini rentan sekali�tetapi pada kenyataannya banyak yang seperti

itu.

Sebuah kata, seberapa pun bagus seseorang beretorika, pengaruhnya tidak akan

lama kalau kemudian pribadi yang menyampaikan ternyata amat jauh dari apa yang

pernah di sampaikannya. Begitu orang menemukan �cela � atas diri seseorang

biasanya apa yang di sampaikan di lain waktu tidak akan terlalu diperhatikan lagi.

Walaupun hal yang di sampaikan itu adalah suatu kebenaran. Tanpa kekuatan

ruhiyah, perkatakan itu tidak akan sampai pada hati orang yang mendengarnya.

Dari pengalaman-pengalaman itu�saya mengambil kesimpulan bahwa keteladanan

adalah sebuah tuntutan. Harus disadari bahwa setiap diri adalah wajib untuk

menjadikan dirinya sebagai model. Tidak untuk menghilangkan keikhlasan atau yang

lainnya tetapi itu adalah kewajiban yang secara otomatis melekat di setiap pundak

seorang muslim/muslimah.

Muslimah yang telah bekerja harus membebani dirinya untuk tetap seperti semula.

Tetap aktif sebagaimana dulu sewaktu masih kuliah atau ketika masih mempunyai

banyak waktu luang. Walaupun aktivitasnya dalam bentuk yang berbeda, tetapi

ketika dia mampu menunjukkan bahwa kariernya tidak menghalangi dia untuk tetap

berkiprah, ternyata itu mampu memberikan energi bagi juniornya ketika nantinya

berkarier juga ia akan bercita-cita seperti seniornya tersebut.

Begitu juga akhwat-akhwat yang mampu tetap eksis kiprahnya setelah memasuki

dunia rumah tangga. Ternyata mereka-mereka itu sering jadi rujukan akhwatakhwat

yang masih lajang. Paling tidak, mampu memberikan gambaran bahwa

rumah tangga bukanlah suatu halangan untuk tetap eksis dalam dakwah. Juga

ummahat yang kemudian sibuk dengan anak-anaknya. Beliau- beliau yang aktif itu

mampu memberikan energi bagi adik-adiknya.

Mata rantai itu ternyata berlanjut, tidak terputus. Seorang ustadz atau ustadzah

bertanggungjawab atas keteladanan terhadap mad�unya atau obyek da�wahnya.

Seorang ummahat bertanggungjawab keteladanan bagi junior-juniornya. Bagi yang

sudah punya jundi banyak akan menjadi rujukan bagi ummahat yang masih baru

nikahnya. Bagi yang sudah terjun langsung ke dalam masyarakat tentu akan di lihat

adik-adik yang masih di lingkungan ideal (sekolah dan kampus ) sebagai rujukan.

Rantai keteladanan itu bersambung secara alami. Maka kewajiban memaksa setiap

diri untuk istiqomah dengan nilai-nilai yang telah di peroleh dari tarbiyah adalah

sebuah keniscayaan. Bahkan bagi seseorang yang berada di level bawah macam

kita-kita ini..kewajiban menjadikan diri sosok model itu adalah kewajiban.

Setiap muslim/muslimah harus memaksakan dirinya untuk menunjukkan bahwa

dirinya adalah sosok yang bisa dilihat. Ini lho�orang yang telah tertarbiyah itu.

Begini lho akhlaknya orang yang telah mengenal Islam secara lebih mendalam. Dan

yang paling pasti�begini lho orang islam itu�

Dengan kesadaran diri bahwa kewajiban menjadikan diri sebagai sosok teladan..di

harapkan kefuturan karena faktor figuritas yang terjadi di manapun akan banyak

terkurangi. Tidak ada lagi uangkapan keheranan sekaligus kekecewaan bahwa

ternyata teori yang ada tenyata tidak mampu membentuk pribadi yang nyata.

Kita semua menyadari bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Disetiap sisi

kehidupan manusia, Islam telah menetapkan aturannya. Yang menjadi PR kita

sekarang adalah seperti apa sih manusia Muslim itu ?

Sedih kan ketika kita membaca berita-berita kriminal media kita� Yang sering di cap

teroris..dia muslim. Pembunuh, perampok, pemerkosa, pencuri dll�ketika

ditanyakan agamannya..ternyata Islam. Bahkan ketika terorisme merebak�seakan

lebel teroris itu melekat di jidat orang Islam.

Maka tak bisa dipungkiri�bahwa keistiqomahan kita dengan nilai-nilai islam yang

telah kita perolah bukan hanya masalah diri pribadi kita semata. Yang berujung pada

masuk surga atau neraka, tetapi berpengaruh pada pribadi di luar kita, tentu sesuai

dengan kapasitas kita sebagai apa. Dan lebih celaka lagi..kalau kemudian

keteladanan itu membawa imbas akan nama Islam itu sendiri, agama yang kita

yakini kesempurnaannya. Beragama Islam�tapi kok�bukan lagi�Pakai jilbab/

jenggotan tapi kok� Dah ngaji�tapi kok�Nah lho�Wallahualam bishowab !

Sumber: kelilingku..

MUSLIMAH MANJA

Sebenarnya serba salah juga sih ya menyikapinya. Perlu atau tidak disalahkan. Atau

siapa yang perlu disalahkan juga tidak jelas. Atau akunya yang bermasalah dengan

sudut pandangku ? Bisa jadi. Itu lho tentang model akhwat dan Ummahat �manja�.

Aku termasuk yang paling gregetan dengan tipe-tipe seperti itu. Manja dan tidak

mandiri. Kalau masalahnya karena memang tidak bisa atau karena masalah yang

benar-benar tidak bisa diubah..aku bisa maklum kok. Tetapi kalau faktornya malas

belajar dan kurang tekadnya..Hiiiiihh�gregetan aja bawaannya. Kalau anak kecil

pingin juga ngejitak deh !

Pernah Ikhwan teman sekantorku kecelakaan. Hampir dua bulan beliau tidak bisa

ngantor. Kendaraan yang beliau punya �hanya� sepeda motor. Penghasilan utama

hanya dari gaji dan TC aja. Dan rumah di Luar kota. Tiga anaknya semua sekolah

didalam kota karena memang selama ini masalah transport tidak masalah, setiap

hari bareng abinya.

Selama tidak ngantor otomatis kan tidak mendapat TC..so, harus pandai-pandai

mengatur uang belanja. Beliau minta tolong padaku untuk antar jemput anakanaknya.

Jadilah dua bulan penuh aku bolak balik antar jemput anak-anak itu.

Secara ukhuwah, aku berterimakasih sekali diberi kesempatan ladang amal seperti

itu yang akhirnya memang mendekatkan hati-hati kami.

Tapi aku melihat ketidakefektifan di sini. Selama beliau tidak bisa mengendarai

sepeda motor, istrinya kemana-mana naik becak. Dan antar jemput anak-anak harus

di lakukan oleh akhwat lain kalau tidak berarti harus boros di ongkos jika naik

angkot. Padahal sepeda motor di rumah menganggur dan istri dalam kondisi sehat

wal afiat.

Yang membuat aku tidak mengerti, ketika aku minta ijin untuk mengajari ummahat

itu naik motor, beliau tidak mengijinkan, dengan alasan kasihan sama istrinya kalau

harus mengendarai sepeda sendiri. Takut kecelakaan dan lain sebagainya. Pusing

juga..afwan..aku bingung dengan jalan pikiran ikhwan.

Sama ketika aku minta ijin kepada seorang ikhwan untuk mengajari istrinya bawa

mobil. Beliau tidak mengijinkan. Memang semenjak beliau melanjutkan S2nya di

Surabaya ..aku jadi punya profesi sampingan� jadi sopir pribadi. Ayahnya yang

dalam kondisi sakit dan harus sering ke dokter..tidak bisa tidak harus diantar pakai

mobil kemana-mana.

Bukan ingin mengeluh. Tapi kadang timbul kasihan kalau kebetulan aku tidak bisa

membantunya, dan tidak ada yang bisa dimintai tolong lagi, akhirnya ke dokternya

tertunda. Beberapa kali sih..berkhayal, coba mbaknya bisa bawa mobil..kan lebih

meringankan..batinku.

Pernah juga, ketika aku iseng main ke rumah ummahat. Wuih..keadaannya

berantakan sekali. Cucian yang harus disetrika menggunung. Ketika tak tanya..mang

kenapa Mbak kok belum disetrika ? Ternyata..setrikanya rusak. Beliau

bilang..biasanya abinya yang suka mbenerin hal-hal seperti itu. Mau di bawa ke

tukang servis tidak sempat karena anak-anak tidak bisa ditinggal. Sedang abinya

sedang ada urusan dakwah(jaulah) selama seminggu. Ternyata ketika

kulihat�weleh�kabelnya lho hanya terlepas sebelah. Di buka, sambung, selotip.

Beres deh�

Ada lagi..yang lucu dan bikin terharu. Berhari-hari aku memergoki seorang ummahat

bolak-balik ke warung makan. Membeli nasi dan lauknya. Padahal menurut

perkiraanku penghasilannya �tidak mengijinkan� untuk seperti itu. Ketika iseng tak

godain..ga masak tho Mbak..marung mulu nih ?

Beliau bilang..iya dhe�..habisnya kompor di rumah sudah tidak bisa menyala sih.

Nunggu Abinya aja deh buat mbenerinnya�Hah ? Kaget juga sih..hanya nyabutin

sumbu kompor aja tidak bisa ? Mau nunggu abinya ? Bukankah waktu itu Abinya

sedang jadi sukarelawan ke Aceh�sebulan lagi ! Akhirnya�dengan prihatin..kita-kita

juga yang akhirnya nyabutin sumbu kompor itu.

Menjadi Ummahat atau Akhwat yang manja memang bukan melanggar syari�at. Juga

buat para suami..memanjakan istri..tidak boleh ini tidak boleh itu juga bukan suatu

yang dilarang agama. Atau mungkin malah di anjurkan kali ya ? (mosok sih ? gini

nih pertanyaan akhwat yang belum pernah merasakan dimanja suami�hehehe..)

Buat kita-kita akhwat yang pengangguran..seneng-seneng aja sih menolong

kesulitan saudara. Itu kan ladang amal buat kita-kita. Indahnya ukhuwah memang

diantaranya seperti itu.

Hanya, kalau dari sudut pandangku�kemanjaan kita sering sekali menyulitkan kita

sendiri. Aku termasuk yang punya anggapan kita harus mandiri. OK lah ..mau

dibilang narsis ya ga papa deh.. Atau kalau memang terpaksanya suami kita tipe

baru merasa �jadi suami� kalau kita repotin dan kita tergantung padanya..ya kalau

pas ada dia..kita bersikap manja aja..apa-apa minta tolong suami..seberapa repot

sih jadi istri yang manja ? (Hehehe..soalnya aku tipe yang suka memanfaatkan sifat

ga tegaan Ayah sama Masku sih..)

Ada masanya..kita harus mandiri. Apalagi tipe suami yang pegawai macam kita-kita.

Yang berpindah-pindah terus-terusan. Atau yang punya pasangan yang aktif di

dakwah. Sering beliau harus meninggalkan rumah untuk jaulah beberapa hari. Atau

seperti keadaan-keadaan yang tak pernah di duga seperti peristiwa tsunami aceh,

banyak ikhwan kita yang ke Aceh sebulan atau bahkan lebih.

Untuk akhwat yang masih punya banyak waktu luang, gunakan waktu untuk banyak

belajar. Belajar apa saja. Karena sangat bisa jadi, ilmu itu tidak langsung kita

terapkan tapi sangat dibutuhkan entah berpuluh tahun yang akan datang. Sangat

bisa jadi. Kalau ilmu itu sudah kita kuasai, pastilah akan lebih memudahkan kita. Lha

daripada waktu habis buat mikirin kapan nikah..kan mending belajar apa kira-kira

ilmu yang dibutuhkan setelah pernikahan tho ? hehehe..

Pernah membaca Ikhwanul Muslimin dalam masa tribulasi ? Ketika para Ikhwan di

penjara berkali-kali dan masa yang cukup lama, bertahun-tahun. Pernah sekedar

membayangkan tidak bagaimana cara ummahat dan akhwat itu bertahan tanpa

ikhwan �ikhwan mereka ? Mencukupi, menghidupi diri dan membesarkan anakanaknya

? kehilangan sumber maisyah, kehilangan orang yang selama ini siap

membantu ?

Bukan hendak menakut-nakuti..tapi bukankah kita sendiri sadar bahwa ujian dalam

dakwah adalah sunnatullah ? Mihnah dalam da�wah adalah cara paling efektif dari

Allah untuk memurnikan dakwah itu dari orang-orang yang benar-benar ikhlas

berjuang untuk kalimat Allah dengan yang hanya lil..yang lain. Karena orang yang

berjuang bukan karenna Allah..tentunya akan segera mundur ketika menemui ujianujian

dalam dakwahnya.

Pada saat seperti itu ..kadang aku berpikir, dimanakan posisiku ? Menjadi beban

yang semakin memberatkan beban jamaah dengan ketidakmandirian dan kemanjaan

kita ? Atau merupakan bagian dari beliau-beliau yang mampu memberi kontribusi

untuk meringankan beban dakwah ? Yang jelas�semoga Allah mengijikan kita

semua untuk menempati posisi yang mampu meringankan beban kita sendiri dan

beban jama�ah�amien. Wallahu�alam bishowab !

jember, 10.00

buat sodara2ku..afwan jiddan..bukan menganggap kebanyakan ummahat itu

manja..peristiwa2 itu hanya bagian dr kepingan masa dlm hidupku..aku yakin, lebih

banyak ummahat yg mandiri..dengan tarbiyah ini..aku yakin, telah mampu

membentuk antum semua menjadi pribadi2 yg kuat..goresan ini hanya untuk bahan

renungan saja� masalah setuju ga setuju kan wajar aja ..ya kan ?

Sumber: kepingan masa dlm hidupku..

Bersambung. . .

4 thoughts on “Menjadi Muslimah Yang Dinanti (Bag. 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s