Ini Kewajiban, Bukan Pilihan!

==> 

Banyak orang menggunakan hari atau momen-momen tertentu seperti ulang tahun, tahun baru, Ramadhan, atau Lebaran untuk melakukan hal-hal penting atau dianggap istimewa dalam hidupnya. Salah satu yang melakukannya adalah Anisa, putri semata wayang pak Ahmad (keduanya bukan nama sebenarnya). Anisa yang kini duduk di bangku kelas lima sekolah dasar ini menggunakan hari pertama masuk sekolah untuk memulai berjilbab. Juga sang ibu yang menjadikan momen mudik lebaran empat tahun silam untuk merubah penampilannya dengan mengenakan jilbab.

Anisa baru memakai jilbab ketika sudah kelas lima sekolah dasar? Itu artinya Anisa sudah berusia lebih dari sepuluh tahun? Dan, sang ibu baru mengenakan jilbab empat tahun yang lalu? Saat itu berarti usianya sudah lebih dari dua puluh tahun? Betul! Pak Ahmad sadar dan mengakui bahwa istri dan juga anaknya terlambat mengenakan jilbab. Tapi yang jelas, pak Ahmad tidak ingin keterlambatan ini menjadi alasan untuk tidak melakukan. Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Allah masih memberikan kesempatan, jangan sampai berlalu tanpa dimanfaatkan.

Pak Ahmad menyadari bahwa salah satu kekhilafannya di masa lalu adalah ketika memilih calon pendamping, kecantikan wajah adalah faktor utama yang dia cari. Sopan santun dan perilaku calon istri menjadi pertimbangan berikutnya. Calon istri yang shalehah menurutnya saat itu tak berkait dengan berjilbab atau tidak. Untuk apa berjilbab jika akhlak dan tingkah lakunya tidak terkontrol, lebih baik memilih gadis yang tidak atau belum berjilbab tapi memiliki akhlak baik dan terjaga tingkah lakunya, begitu pertimbangan Ahmad remaja kala itu. Sama seperti pola pikir wanita yang kini menjadi istrinya.

Begitu pun ketika rumah tangga mereka dikarunia seorang anak perempuan. Pasangan muda ini begitu takjub dengan kemolekan rupa sang bayi. Mereka mengakui kecantikan paras buah hati mereka, bahkan mereka membanggakannya. Tak terbersit sedikit pun saat itu untuk membiasakan putri kecilnya mengenakan jilbab. Bahkan dibanding sang istri, Ahmad sering berburu pakaian untuk putri kecilnya. Tentu saja pakaian yang dibeli sebagian besar adalah pakaian anak-anak yang beraneka ragam corak dan modelnya, bukan pakaian takwa untuk seorang muslimah. Baik pak Ahmad maupun istrinya, seringkali merasa terpesona dengan kecantikan buah hati mereka.

Waktu pun berlalu, dan pak Ahmad terbukti tidak bisa membohongi hati kecilnya. Dia ingin istri dan putrinya mengenakan jilbab. Keinginan ini semakin kuat seiring dengan bertambahnya pengetahuan tentang agama. Dua kali seminggu pak Ahmad mengikuti pengajian umum, setiap malam Rabu di rumah Haji Nurdin dan Minggu pagi di salah satu pondok pesantren tak jauh dari tempat tinggalnya. Buah dari mengikuti pengajian ini salah satunya adalah pak Ahmad merasa wajib melindungi istri dan anaknya dari kobaran api neraka, salah satunya dengan berjilbab.

“Saya akan membelikan beberapa baju dan kerudung untuk membuktikan bahwa saya serius,” begitu strategi pak Ahmad mengatasi keraguan sang istri yang selalu merasa belum siap untuk berjilbab. Alasan yang kini tak bisa lagi dipahami dan ditolerir oleh pak Ahmad. Apanya yang diragukan, ini sebuah kewajiban, bukan pilihan! Siap tidak siap, kewajiban harus dilaksanakan, tinggal meluruskan niat dan mengikhlaskan hati agar bernilai ibadah.

Strategi Pak Ahmad berhasil. Meski awalnya masih agak ragu, sang istri akhirnya memilih mudik idul fitrinya untuk memulai berjilbab. Pak Ahmad terus memberikan semangat dan masukan bagaimana seharusnya berjilbab yang baik dan benar menurut Islam. Alhamdulillah, dari hari ke hari sang istri semakin mantap mengenakan jilbabnya. Sang istri tak pernah melepaskan jilbabnya kecuali di hadapan orang-orang yang berhak melihatnya.

Melihat perubahan penampilan sang ibu yang berjilbab, rupanya tidak serta merta membuat Anisa ingin merubah penampilannya. Bahkan meski sudah tiga tahun memakai jilbab, sepertinya sang ibu dan juga pak Ahmad belum serius menyuruh Anisa mengenakan jilbab. Hanya sesekali mereka mengingatkan agar Anisa tetap mengenakan kerudung yang biasa ia gunakan untuk mengaji setiap pagi. Harus mereka akui bahwa meraka masih bahkan semakin mengagumi kecantikan sang buah hati. Sayangnya, Anisa menyadari bahwa bapak ibunya mengakui kecantikannya dan belum terlalu serius menyuruhnya berjilbab.

Memasuki tahun keempat setelah sang istri memakai jilbab, seiring bertambahnya usia Anisa, kegundahan pun menyelimuti hati pak Ahmad. Perang batin kerap terjadi dalam diri pak Ahmad. Satu sisi dia senang melihat putri semata wayangnya dengan dandanan seperti biasanya. Satu sisi dia juga khawatir kalau-kalau Anisa kelak tidak mau mengenakan jilbab. Selama ini pak Ahmad masih memberikan kelonggaran kepada putrinya dengan pertimbangan usianya yang masih anak-anak. Tak apalah tak memakai jilbab, toh masih anak-anak, begitu cara pak Ahmad membenarkan diri selama ini.

Memasuki usia sepuluh tahun, fisik Anisa mulai menunjukan perubahan. Perlahan Anisa tumbuh menjadi remaja yang cantik. Hal inilah yang kemudian membuat pak Ahmad begitu khawatir. Maka, dengan sedikit memaksa, pak Ahmad meminta Anisa untuk segera mengenakan jilbab. Meskipun belum baligh, paling tidak ini untuk belajar membiasakan. Begitu jawaban pak Ahmad setiap kali Anisa berusaha menunda sampai nanti dia sudah baligh. Tak mudah mendapatkan kesadaran Anisa untuk segera berjilbab. Hal ini sebenarnya sudah diduga, baik oleh pak Ahmad maupun sang istri. Inilah resiko yang harus mereka hadapi karena tidak membiasakan anak putrinya berjilbab sejak usia dini.

Pak Ahmad dan juga sang istri tak mau menyerah. Inilah kesempatan untuk menebus kesalahan mereka dulu. Dengan berbagai pendekatan, alhamdulillah akhirnya Anisa bersedia berjilab. Bahkan kesanggupan ini didasarkan atas kesadaran, bukan karena desakan bapak dan ibunya. Dan hari pertama masuk sekolah kelas lima dipilihnya sebagai saat yang tepat untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya sebagai gadis remaja berjilbab. Anisa yakin bahwa kecantikan tidak akan hilang hanya karena mengenakan jilbab, justru akan terlihat semakin cantik seperti yang dikatakan bapak dan ibunya.

“Alhamdulillah, saya lega sekarang. Saya merasa anak saya seperti terlahir kembali,“ jawab pak Ahmad ketika ditanya bagaimana perasaannya setelah Anisa berjilbab. “Tapi saya juga tidak boleh merasa tangung jawab saya sudah selesai. Saya harus terus menyemangati istri dan anak saya agar tetap istiqamah dengan jilbabnya. Juga saya harus ikut mengawasi cara berjilbab mereka, sebab sekarang ini banyak orang yang salah mengartikan cara dan tujuan mengenakan jilbab,“ katanya melanjutkan.

Setiap wanita menginginkan dirinya terlihat cantik, itu kodrat mereka. Wajar apabila kaum wanita begitu memperhatikan dandanan dan juga pakaian demi mendapatkan penampilan maksimal. Tak heran apabila kemudian model pakaian wanita jauh lebih banyak dibanding model pakain kaum pria. Begitu pun jilbab, dari hari ke hari modelnya terus berkembang. Tidak masalah seorang muslimah tampil modis, asalkan tetap terjaga cara dan tujuan berpakaian.

Harus kita akui bahwa masih ada muslimah yang mengenakan jilbab setengah-setengah. Ketika hendak kerja atau bepergian jauh, mereka mengenakan jilbab. Tapi ketika sudah kembali ke rumah, jilbab pun ditanggalkan, kembali berpakaian seksi di hadapan orang-orang yang tidak berhak melihatnya. Juga ada yang menganggap seolah jilbab itu sekedar penutup rambut dan kepala, atas tertutup tapi bawah dibiarkan terbuka. Masih ada muslimah yang berpakaian layaknya telanjang. Seluruh badannya tertutup pakaian, tapi lekuk tubuhnya tampak begitu jelas. Juga ada yang memilih pakaian yang bahannya transparan layaknya parcel, membungkus rapat, tapi isi di dalamnya terlihat nyata. Astaghfirullqh! Yang seperti itu belumlah bisa disebut berjilbab. Tapi kita juga tidak boleh mengecilkan usaha mereka, paling tidak kita harus tetap menghargai mereka yang berusaha menutup auratnya, hanya perlu diluruskan niat dan caranya.

Yang perlu kita perjuangkan adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran muslimah bahwa berjilbab itu sebuah kewajiban, bukan pilihan. Ini tidak mudah karena erat kaitannya dengan hidayah. Ibunya berjilbab tapi anaknya selalu berpakaian seksi atau sebaliknya, itu salah satu buktinya. Selalu ragu, malu, belum siap adalah perangkap setan yang paling sering diungkapkan. Bahkan, setan selalu berusaha menghalangi manusia dari jalan yang benar. Menjilbabi hati terlebih dulu, yang terpenting hatinya, untuk apa berjilbab kalau hatinya tidak. Alasan-alasan ini tidak salah meski tidak sepenuhnya benar, terutama jika yang kita bicarakan mengenai jilbab.

Menjaga hati itu adalah kewajiban setiap orang, laki-laki dan perempuan. Gerak laku tubuh kita bergantung pada sehat tidaknya hati. Tapi kewajiban berjilab bagi muslimah tidaklah bisa digantikan dengan sekedar menjaga hati. Setiap muslimah terutama yang sudah baligh diwajibkan menutup seluruh auratnya dari orang-orang yang tidak berhak kepadanya. Ini adalah perintah untuk menutupi fisik muslimah, bukan hati yang letaknya di dalam. Tak ada orang yang tahu gerak hati seseorang kecuali Allah dan dirinya. Rasanya sulit mengatakan bahwa hati seseorang telah benar-benar beriman dan bertaqwa sementara kewajiban yang Allah berikan masih diabaikan.

Saudariku, kapankah kalian akan berjilbab? Hari ini, besok, minggu depan, bulan depan? Nanti, saat menikah, berulang tahun, tahun baru? Menunggu bulan Ramadhan yang insya Allah akan datang sebentar lagi, atau pas Idul Fitri nanti? Yang saya tahu, Islam tidak mensyaratkan waktu-waktu tertentu seperti itu. Kalaupun ada yang memilih saat-saat khusus seperti yang dilakukan Anisa dan ibunya, itu bukan aturan agama, tapi barangkali sekedar untuk mendapatkan sebuah kesan pribadi.

Saya sarankan, mantapkan niat dan mulailah saat ini, setelah membaca tulisan ini. Saudariku mungkin bisa menjamin bahwa niatmu sudah kuat, tapi saya yakin tak ada satupun yang bisa menjamin apa yang akan terjadi setelah ini. Masih adakah waktu dan kesempatan untuk merubah niat menjadi tindakan nyata? Saudariku, sadarlah bahwa menutup aurat itu sebuah kewajiban, bukan pilihan.

Saya tidak bermaksud menilai, menghakimi, atau menunjuk seseorang pun di sini, tapi saya merasa perlu mengingatkan keluarga saya, kakak dan adik saya, keponakan-keponakan saya yang sampai saat ini belum seluruhnya berjilbab. Saya sadar bahwa ini berkaitan dengan hidayah, saya hanya sekedar mengingatkan. Bahkan dalam hal lain, saya pun sebenarnya butuh untuk diingatkan.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s