Hmm..

Sentuhlah ia tepat di hatinya
Ia kan jadi milikmu selamanya
(Ari Lasso, Rahasia Wanita)

Bener kali ya kalau akhwat tuh sensi. Dikasih perhatian sedikit aja, apalagi dari ikhwan bisa-bisa geer. Beruntunglah yang ‘lempeng’, dia bisa cuek atau menganggapnya hanya angin lalu.

Tidak jarang, rasa geernya itu terus-terusan terbawa dalam kehidupan selanjutnya. Ini yang parah. Apalagi jika sampai menimbulkan fitnah. Yang jadi korban bukan hanya si akhwat, tapi bisa melibatkan banyak orang.

Seperti kisah di bawah ini.

Sebutlah A. seorang ikhwan yang cukup supel dan ramah. Sebagai seorang yang cukup dikenal, dia kerap kali menuai kritik. Disebut sok cakeplah, centillah, dll. Kalau memang dia cakep, apa salah? Itu kan anugerah Allah. Sok centil? Hem, bisa jadi. Tapi apakah bersikap ramah itu salah? Saat dia diam, dicap sombong. Serba salah jadinya.

Kemudian sebutlah si B. Akhwat manis yang cukup akrab dengan si A. Tadinya sebatas hubungan bisnis. Entah kelanjutannya, karena cerita yang beredar selalu berkembang. Dibanding dengan ikhwan-ikhwan lain teman si A, si B memang lebih dekat dengan A ini. Meski demikian, teman-teman akhwat A yang lebih akrab pun tak sedikit jumlahnya.

Sampai suatu hari, berita bahwa si B sudah melangsungkan pernikahan dengan ikhwan C, yang merupakan sahabat dekat A, orang-orang pun gempar. Ada yang mengucapkan selamat, dll. Tapi yang mencibir dan menyebut si A patah hati pun tak sedikit. Cerita yang berkembang semakin tidak tentu arah. A kaget. Mau marah tidak bisa, didiamkan saja akhirnya meski harus menahan emosi.

Di suatu kesempatan, B bertemu dengan temannya, seorang akhwat yang juga dekat dengan A. Usia pernikahannya waktu itu memasuki usia 3 bulan. Dia bercerita tentang proses pernikahannya. Ketika C, suaminya melamarnya dulu, hatinya sedang galau karena si A digosipkan dekat dengan akhwat lain. Padahal menurutnya, A dan dia sudah merancang masa depan mereka kelak. Tapi A tidak ada kabar. B pun curhat pada C. Dan C menawarkan solusi yang lebih pasti. Akhirnya mereka pun menikah.

B mengaku masih belum bisa melupakan A. Beberapa waktu setelah pernikahannya, dia pernah beberapa kali mengirim SMS kepada A, yang salah satunya pernah dibalas meminta untuk tidak menghubunginya lagi, karena bagaimana pun B sudah menjadi istri C. B sendiri sadar, dia merasa tidak tahu diri banget kalau sampai masih memikirkan A. Padahal C sudah begitu baik menerima dia apa adanya dan memintanya menjadi istrinya. Secara fisik, A mungkin sedikit lebih dari C. Tapi secara sifat, C lebih dewasa dan tegas dibanding A. B pun sadar dan mensyukuri hal itu.

B mengaku pada sahabatnya itu, dia mengirim SMS kepada A agar hatinya lega karena tidak lagi memendam sesuatu. Dan dia berjanji itu adalah SMS dan komunikasinya yang terakhir dengan A

Ketika di lain waktu si sahabat (yang akhwat itu) bertemu dengan si A, A bercerita bahwa ia sangat tidak nyaman dengan gosip-gosip yang beredar. Dia menghindar disebut patah hati. Sementara dia sendiri tidak mood melayani. A merasa bahwa sikapnya selama ini biasa saja. Sama kepada semua akhwat yang dia kenal. Entah kalau si B merasa lain. Apa karena si A terlalu baik, maka B menjadi salah paham? Wallahu a’lam.

Hampir setahun berlalu ketika A bertanya kepada sahabatnya itu, apakah masih sering kontak dengan pasangan B dan C? A dan sahabatnya itu memang lost contact sejak C pindah kota. SMS-SMSnya jarang dibalas. A bercerita, beberapa waktu yang lalu, B lagi-lagi mengirim SMS, yang inti isinya adalah ‘I can’t forget you’ alias ‘ I still remember you’. Walah, tentu saja tidak digubris. Bagaimana pun A sangat menghargai C sebagai sahabatnya. Apalagi hubungan mereka memang jadi renggang setelah gosip-gosip yang beredar, dan C sempat menemukan SMS-SMS yang dikirm B kepada A.

Mendengar cerita tersebut, saya tidak habis fikir, jika ada akhwat (apalagi yang sudah mengenal tarbiyah) masih sempat-sempatnya memikirkan ikhwan lain dari masa lalunya, padahal punya suami yang begitu baik dan mengorbankan segalanya demi akhwat itu, menerima dia apa adanya, meski tahu istrinya sempat ingat pada ikhwan lain.

So, para akhwat, kisah di atas bisa jadi nyata atau tidak. Wallahu a’lam. Tapi kita memang harus pandai-pandai menjaga hati. Salah kita bersikap, kita bisa terjebak pada khayalan semu. Yang rugi kita sendiri kan? Apalagi jika kita sampai terobsesi pada seseorang (na’udzubillah) dan orang itu memilih orang lain, malah kita stres sendiri.

Bersikaplah wajar ketika kita menerima perhatian dari orang lain, khususnya dari lawan jenis. Jangan terlalu apresiate seandainya ada yang kelihatan beda. Kalau memang sudah siap, merasa cocok, ajak nikah saja. jangan bersembunyi di balik topeng ukhuwah.

Syukur bagi orang yang memang ‘lempeng’, paling tidak, menurut saya mereka masih bisa menjaga hati, meski masih rawan terpaan gosip dari sana-sini.

Duh, riskan memang menjadi seorang akhwat. Betapa harus pandai kita menjaga kondisi hati. Adakalanya benteng hati pun kita sepuh warna baja dan tembaga agar nampak kuat, padahal aslinya kayu tua yang rapuh.

Yuk, saling menguatkan.

5 thoughts on “Hmm..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s