SEMU…


Sesuatu telah terjadi, aku mulai kehilangan hari-hari indah bersamanya. Aku ingin kembali merengkuh hari-hari indah itu, apakah aku harus menanti? Tapi, masih beratus hari lagi yang harus aku hadapi. Apakah aku akan mampu melewatinya? Haruskah aku jalani rasa sepi yang selalu menyapa di setiap deretan hari, sementara di sekelilingku banyak yang menawarkan kebahagiaan lain. Haruskah aku melepaskan diri dari lingkar penantian ini, yang kian hari kian membelengguku.

Kamu harusnya membenahi hidupmu. Setia pun harus pakai logika. Kamu memang setia, tapi setia terhadap kebodohanmu dalam mengartikan cinta yang selalu kamu agungkan. Tidak selamanya kamu harus bergantung pada cinta yang hanya memberikanmu kesepian, kesedihan, kekecewaan, penderitaan, luka hati yang mungkin akan sulit terobati, atau mungkin akan meninggalkan bekas di kemudian hari. Pikirkanlah nasihat orang-orang di sekelilingmu. Orang-orang yang juga sangat menyayangimu, yang ingin melihatmu bahagia. Janganlah terlalu sentimentil dalam menghadapi cinta. Jangan tutup telinga dan matamu terlalu rapat, karena itu bisa membutakan hatimu.

Mengapa semua orang seolah ingin memisahkan aku darinya? Mengapa tak seorang pun yang mendukung masa penantianku? Mengapa tak ada yang mendukung aku untuk tetap setia?

Sebenarnya, jauh dalam lubuk hatiku, rasa bimbang itu mulai muncul, ditambah dengan sikap mereka yang tidak memberikan dukungan, membuat kebimbangan ini semakin merajai hatiku.

Aku menatap sosok itu dengan hati tak menentu. Betapa inginnya kepala ini mengangguk. Betapa inginnya aku sambut mata yang menjanjikan itu. Betapa ingin aku menangis, menumpahkan segala keluh dan kesah yang selama ini aku rasa. Betapa sulit untuk memutuskan itu semua, karena jauh di sana, ada sepotong hati di mana telah kutorehkan janji. Andai aku bisa menarik segala janji, akan kutarik seluruhnya, karena ternyata aku tak layak menjanjikan apa-apa. Sepotong hati itu adalah tempat di mana aku merajut banyak kenangan. Akhirnya kepalaku menggeleng, perlahan namun pasti.

Apa yang telah ia berikan untukmu? Tidak ada, selain penderitaan, kesepian, dan kekecewaan. Dan anehnya, ternyata kamu masih tetap menyimpan namanya dalam hatimu, bahkan kehadiran sosok yang menawarkan segala kebahagiaan yang selama ini kamu inginkan pun, kamu tolak. Kamu masih bertahan dengan kesetiaanmu yang tak masuk logika.
Mengapa kamu tega menampik ketulusan cinta yang nyata di depan mata, demi cinta pertamamu yang kini mulai semu.

Aku ingin sekali berpegang kepada janji-janji yang pernah kita ucapkan bersama. Aku sayang kamu, aku rindu kamu, tapi rindu yang seolah tak berujung ini justru menyeretku pada kebimbangan demi kebimbangan tanpa tepian. Hatiku galau, setiap hari aku berdo’a untukmu, melakukan segalanya demi menjaga hatiku untukmu. Namun akhirnya aku sadar, aku hanyalah manusia biasa. Mampukah aku menjadi bidadari yang memiliki kesetiaan yang luar biasa, kesetiaan tanpa batas.

Terima kasih, Ya ALLAH, atas segala waktu yang telah membuktikannya. Akhirnya aku mampu menjadi wanita tegar. Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku hidup atas dasar dan untuk cinta suci.

One thought on “SEMU…

  1. cinta hnya mmakai logika bakal pincang,,cinta dengan hati yg bersandar pada Illahi lah yang akan menuntun logika,hati dan semuanya ke arah yg diridhoi Allah,,n insya ALLAH ur love happy ending🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s